Jumat, 09 Januari 2015
foto paspor cepat jadi
foto paspor ..... Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi akan halnya obyek, kawasan, atau gejala dengan jalan menganalisis petunjuk yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, kawasan, atau gejala yang dikaji (Lillesand and Kiefer, 1979). Sedang menurut Lindgren, Penginderaan jauh ialah berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan ulasan informasi tentang globe. Informasi itu khusus nyata radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan daripada permukaan globe. Penginderaan jauh adalah aktivitas penyadapan informasi tentang obyek atau gejala di permukaan globe (atau permukaan bumi) tanpa dengan perantara kontak langsung. Karena tanpa kontak langsung, diperlukan media supaya obyrk atau gejala tersebut bisa diamati & ‘didekati’ oleh si penafsir. Media itu berupa ide (image atau gambar). Rekaan adalah gambaran rekaman suatu obyek (biasanya berupa gambaran di foto) yang dibuahkan dengan cara optik, elektro-optik, optik mekanik, atau elektronik. Di umumnya ia dipakai jika radiasi elektromagnetik yang dipancarkan atau dipantulkan daripada suatu obyek tidak langsung direkam di film. Pengenalan pola spektral obyek bisa menjadi pemandu yang sangat bermanfaat pada upaya mengenali obyek di citra. Secara garis besar bisa di katakan bahwa air jernih cenderung memberikan pantulan yang lebih rendah daripada pada air keruh pada semua wilayah berjarak gelombang. Vegetasi melepaskan pantulan yang sangat rendah di spectrum biru, meningkat agak tinggi di spektrum hijau (oleh karena itu daun terlihat hijau di mata manusia), menurun lagi di spectrum merah (karena serapan kuat oleh pigmen daun), & meningkat sangat tajam di spectrum Inframerah dekat, sebagai kelanjutan dari pantulan oleh ruang antar sel di jaringan spongi daun. Vegetasi kembali memberikan pantulan yang rendah pada saluran inframerah tengah I & inframerah II karena pengaruh perut lengas (kelembaban) yang tinggi. Tanah bertekstur relatif kasar (pasiran) ataupun relatif lembab melepaskan pantulan yang cenderung meningkat daripada sprektrum biru ke inframerah dekat, kemudian sedikit turun di spectrum inframerah tengah I & II karena pengaruh serapan oleh lengas tanah. Tanah bertekstur relatif halus ataupun yang berona cerah di lapangan dan sangat tipis cenderung melepaskan pantulan yang tinggi pada semua spectra. Dedaunan yang kering akan melepaskan pantulan yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya berjarak gelombang. Meskipun demikian gejala itu cenderung ideal di laboraturium, sedangkan kombinasi berbagai faktor di lapangan kadang-kadang mengaburkan pola teoritis semacam itu. Interpretasi ide merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan kelakuan obyek yang terlihat pada ide, berikut deskripsinya. interpretasi citra & fotogrametri terkait dengan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi ide berurusan dengan manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping Science, 1994). Lillesand & Kiefer (1994) & juga Sutanto (1986) menyebutkan 8 faktor interpretasi yang di gunakan secara konvergen untuk bisa mengenali suatu obyek yang ada pada ide, kedelapan faktor tersebut ialah warna/rona, bentuk, ukuran, bayangan, tekstur, pola, situs & gabungan. Diantara ke delapan faktor itu, warna/rona adalah hal yang paling dominan & langsung mempengaruhi pengguna ide dalam memulai interpretasi. Sebenarnya seluruh unsur interpretasi itu dapat di kelompokkan ke pada 3 jenjang pada piramida unsur-unsur interpretasi. Di jenjang paling lembah terjumpa unsur-unsur elementer yang dengan mudah bisa dikenali pada ide, yaitu warna/rona, bentuk, & bayangan. Di jenjang berikutnya terletak ukuran, tekstur & pola, yang membutuhkan pengetahuan lebih mendalam akan halnya konfigurasi obyek pada ruang. Di jenjang paling kepada terdapat situs & asosiasi, yang adalah unsur-unsur pengenal terpenting dan seringkali menjadi faktor kunci pada interpretasi, namun sekaligus paling sulit untuk dideskripsikan. Interpretasi citra adalah suatu kegiatan untuk menentukan bentuk & sifat obyek yang tampak pada ide, berikut deskripsinya.
Interpretasi citra dapat dilakukan secara manual atau visual, & dapat pula secara digital. Interpretasi citra secara visual sering di sebut dengan interpretasi fotografik, biarpun citra yang di gunakan bukan ide foto, melainkan ide non foto yang duga tercetak (hard copy). Sebutan interpretasi fotografik sering di berikan di Interpretasi visual ide non foto, karena banyak produk tercetak ide non foto di masa lalu (bahkan datang sekarang) di wujudkan dalam bentuk film ataupun ide tercetak di kepada kertas foto, dengan proses reproduksi fotografik. Hal ini dapat dilakukan karena proses pencetakan oleh komputer pengolahan ide non foto dilakukan dengan printer khusus yang disebut film writer, & hasil cetakanya menyerupai slide (diapositif) berukuran besar (lebih kurang hingga ukuran karto). Sebutan Interpretasi fotografik juga diberikan pada bervariasi kegiatan interpretasi visual citra-citra non foto, karena prinsip-prinsip interpretasi yang digunakan tidak jauh berbeda daripada prinsip-prinsip interpretasi foto udara. Foto udara mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan kaum jenis citra unik, terutama pada hal reolusi spasial & kemampua pengamatan secara streokopis. Resolusi spasial foto udara secara seerhana bisa dihitung berdasarkan rumus 1/40000 penyebut skala. Oleh sebab itu kalau ada foto udara asli berukuran 1: 30. 000 (skala yang telah dirancang sebelum pemotretan dilakukan, sehingga duga memperhitungkan jenis film yang sesuai), oleh karena itu resolusi spasialnya adalah 1/40000 30. 000 = 0, 75 Meter. Foto udara berwarna, indah yang di peroleh di spektrum pankromatik maupun yang diperoleh di spektrum inframerah dekat, mempunyai keunggulan dalam hal penyajian warnanya, sehingga obyek yang satu dengan obyek yang lain bisa dibedakan secara mudah pada pandangan baru. Meskipun demikian biaya pengadaan & pemrosesan foto udara berwarna relatif lebih mahal daripada pada biaya untuk foto udara hitam suci. Oleh sebab itu ketersediaan foto udara di Indonesia lebih banyak yang berupa foto udara hitam suci di bandingkan foto udara berwarna. Secara lebih khusus, foto udara pankromatik hitam suci pada bervariasi skala lebih mudah dijumpai dari di foto udara inframerah hitam suci. Pengenalan kenampakan relief permukaan globe atau fisiografi adalah landasan penting pada kajian- kajian yang terkait dengan sumberdaya lahan. Pengamatan akan halnya orientasi fisiografi menempati posisi yang penting pada kajian- kajian geografi fisik (hidrologi, geomorfologi), geologi & pertanian (tanah). Meskipun demikian observasi secara langsung di lapangan tidak selalu menghasilkan deskripsi yang akurat akan halnya relief medan yang dihadapi, karena terbatasnya jarak pandang manusia. Pengenalan kenampakan fisiografi kadang-kadang lebih efektif jika dilakukan dengan bantuan ide pengindraan jauh, karena citra mampu menampilkan struktur keruangan (spatial arrangement) fenomena relief dengan lebih utuh & kontekstual, artinya ada keterkaitan dengan fenomena lainya. Salah satu jenis ide yang sangat efektif dalam menyajikan kenampakan fisiografi adalah foto udara, karena dapat diamati secara stereoskopis. Kenampakan fisiografi yang tergambar di foto udara tidak selalu tepat menyajikan kenyataan di lapangan. Kekasaran relief yang tampak di foto juga dipengaruhi oleh tingkat perbesaran vertikal (vertical exaggeration).
Perbesaran vertikal terkait erat dengan rasio antara panduan udara (B) & tinggi terbang (H), atau sering dinyatakan dengan base-height ratio. Semakin besar base-height ratio, semakin besar pula perbesaran vertikalnya, & kenampakan relief yang tidak terlalu kasar hendak menjadi semakin kasar, lereng-lereng menjadi semakin curam, & lembah-lembah menjadi semakin pada. Hal itu sangat membantu pada observasi relief mikro suatu lokasi, namun bisa pula menyesatkan jika hasilnya dijadikan panduan pemodelan untuk kajian lingkungan, misalnya pendugaan besarnya erosi atau kehilangan tanah. Keunggulan ide multispektral dibandingkan ide spektrum tunggal (dan lebar) ialah adanya pembedaan obyek (penutup lahan) secara lebih indah, karena variasi pantulan di satu spektrum yang relatif sempit bisa di presentasikan. Sebagai contoh, di citra pankomatik yang perekamannya dilakukan pada julat yang lebar, (sekitar 0, 5-0, 73 µm), kecerahan air merupakan rata-rata tingkat pantulan pada kaum spektra yang lebih sempit (0, 5-0, 6; 0, 6-0, 7 µm), yang sebenarnya cukup bertentangan satu sama lainya. Dengan demikian, kecerahan itu dapat menyerupai pantulan jenis-jenis tanah tertentu. Keunggulan unik dari ide multispektral ialah dimungkinkanya pembentukan ide komposit, dimana tiga saluran-saluran spektra (bands) masukan diberi warna merah, hijau & biru, untuk membentuk satu ide tunggal yang bewarna. Satu citra komposit itu sudah mampu menyajikan variabilitas spektral seluruh saluran penyusunnya. Masalahnya kemudian, ide komposit dapat ditata secara standar atau tidak standar. Komposit standar menggunakan tiga saluran masukan, yaitu inframerah dekat, merah, & hijau, dengan urutan pewarnaan merah, hijau & biru (RGB-red, green, blue-dan urutan itu sering tidak disebutkan secara eksplisit). Komposit tidak standar bisa (a) mengubah urutan itu sesukanya-misalnya merah, inframerah dekat dan hijau dengan pewarnaa RGB, (b) menggunakan saluran- saluran lain-misalnya biru, inframerah dekat, dan merah dengan pewarnaan RGB, (c) menggunakan gabunan saluran terlebih dahulu (misalnya indeks vegetasi) & setelah itu segar dikompositkan. Kerena ide komposit dapat ditata secara tak standar, oleh karena itu tanpa informasi daripada sipembuat atau penctak ide tentag komposisi saluran penyusun ide komposit itu, seorang pnafsir bisa terkecoh dan salah melakukan interpretasi. Pekerjaan pemetaan dengan bantuan foto udara rumpang sekali dilakukan pada wilayah yang sempit, yang hanya diliput oleh satu atau dua lembar foto, mengingat bahwa keunggulan ide pengindraan jauh (termasuk foto udara) justru terletak di kemampuan menyajikan synoptic overview, yaitu tinjauan secara menyeluruh namun pendek untuk daerah yang relatif luas. Bertolak pada synoptic overview itu, bisa dipilih sampel-sampel lapangan sehingga kerja lapangan untuk pengujian/pengecekan dan pengumpulan informasi yang tidak dapat dilakukan secara langsung dengan perantara citra dapat dilakukan secara efisien daripada sisi biaya, waktu, & tenaga, dan efektif daripada sisi hasil yang diberikan. Karena daerah yang dikaji biasanya terliput oleh kaum lembar foto (bahkan kadang-kadang datang lebih dari seratus lembar foto) oleh karena itu di perlukan metode yang sistematis untuk memperoleh gambaran biasa wilayah, interpretasi setiap mematok foto, dan pemindahan hasil interpretasi ke peta dasar. Metode itu meliputi: Penyusunan mozaik sementara/tentatif, berupa mozaik tak- terkontrol, sehingga dihasilkan struktur foto yang meluluskan gambaran menyeluruh akan halnya wilayah kajian. Pemberian tanda batas wilayah kajian di peta dasar/peta topografi pantas dengan batas liputan foto, beserta dengan pemindahan posisi setiap pusat foto ke peta dasar itu. Zonasi lokasi ke dalam satuan - satuan pemetaan beserta klasifikasinya (misalnya penutup/penggunaan lahan) secara garis besar dengan perantara diskusi tim/kelompok, bertolak pada kenampakan yang ada di mozaik tentatif itu.
Penggolongan seluruh foto ke seluruh anggota tim, yang diikuti dengan persiapan berupa penentuan lokasi efektif (effective area) untuk interpretasi dan menandai titik-titik pusat foto dan pusat pindahnya. Interpretasi setiap mematok foto udara dengan mengacu ke zonasi yang telah ditetapkan bertolak pada diskusi kelompok di langkah (3). Pemindahan detail/rincian hasil interpretasi ke peta dasar dengan perantara penyesuaian skala. Penyajian peta secara kartografis. Penyusunan mozaik sementara dilakukan dengan menyusun seluruh foto udara lokasi kajian, dengan memperhatikan urutan serat terbang & nomor foto. Di wilayah yang relatif datar dan kondisi penerbangan yang normal yaitu sedikit variasi tinggi terbang, sedikitnya crabbing (terbang terseret angin) dan sebagainya, foto-foto itu biasanya mempunyai skala yang relatif sama. Foto-foto ‘normal’ semacam itu akan mempunyai side lap & end lap yang cukup sehingga bisa mendukung pengamatan secara stereoskopis. Mozaik semacam itu merupakan mozaik tak terkontrol, karena foto hanya ditata berdasarkan urutan serat terbang & nomor penjepretan pemusnahan, dan menumpang tindihkan kenampakan yang sama di foto-foto yang bertampalan. Guna menyusun mozaik tak terkontrol itu sekedar untuk memperoleh gambaran biasa wilayah yang dikaji. Uji interpretasi dilakukan pada hasil interpretasi ide pra- lapangan. Kegiatn lapangan bertujuan untuk menguji atau memisalkan hasil interpretasi pra-lapangan dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Apakah ada yang mengalami perubahan atau ada kesalahan pada menginterpretasi ide. Kegiatan lapangan adalah pembuktian hasil interpretasi (check field) & pemutakhiran petunjuk (data up dating). Pembuktian hasil interpretasi/check field dilakukan dengan membandingkan hasil interpretasi pra-lapangan dengan hasil interpretasi lapangan. Pembuktian tidak dilakukan terhadap semua obyek, namun hanya sebagian obyek yang bisa mewakili fenomena obyek itu. Misalnya obyek gedung dengan atap berbentuk kotak, makam, pabrik, & lain-lain. Hasil interpretasi tergantung daripada metode sampling yang digunakan. Hasil interpretasi merupakan hasil check field setelah dilakukan uji ketelitian interpretasi. Pemutakhiran petunjuk (data up dating) adalah penyesuaian obyek yang terekam pada ide dengan obyek yang ada di lapangan. Misalnya perubahan lahan kosong menjadi pemukiman/lahan terbangun. Sebelum melakukan kegiatan lapangan, praktikan terlebih dahulu harus mengetahui zona yang hendak diamati. Zona tersebut ditentukan dengan penggolongan sift foto udara. Praktikan hendak mendapatkan lokasi yang berbeda-beda. Setelah mengetahui zona, praktikan menetapkanmengukuhkan, menjadikan obyek-obyek apa saja yang hendak diamati. Obyek-obyek yang terekam di foto udara disesuaikan dengan keadaan lapangan di saat itu. Uji ketelitian sangat penting untuk dilaksanakan. Ketelitian petunjuk hasil interpretasi sangat penting untuk diketahui sebelum dilakukan analisa terhadap petunjuk tersebut. Salah satu cara yang digunakan untuk uji ketelitian pada analisis digital petunjuk penginderaan jauh adalah dengan menggunakan komputer, cara lain yang bisa pula digunakan di analisis manual atau visual petunjuk penginderaan jauh yaitu dengan mengubah pixel menjadi grid/petak-petak bujur sangkar menjadi luas bagi masing-masing kelas hasil interpretasi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar